
SURAKARTA, HANAVOX – Ruang akademik idealnya tidak hanya menjadi arena mengejar nilai, tetapi juga episentrum bertemunya wacana dan kultur global. Visi inilah yang dieksekusi dengan presisi oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui ajang International Cultural and Academic Competition (ICAC) 2026.
Acara tahunan ini sukses menyatukan 155 peserta lintas benua yang mewakili 30 negara dan 50 perguruan tinggi. Lebih dari sekadar kompetisi, ICAC 2026 menjadi medium pertukaran budaya, perluasan wawasan, serta diplomasi soft power yang strategis bagi mahasiswa di era yang semakin terhubung ini.
Bukan Sekadar Kompetisi, Ini Ruang Diplomasi
Bagi Direktur Direktorat Kerja Sama dan Urusan Internasional (DRKUI) UMS, Nurgiyatna, Ph.D., ajang ini dirancang sebagai melting pot intelektual dan kultural.
“ICAC lebih dari sekadar kompetisi. Ini adalah wadah di mana mahasiswa dari berbagai negara, budaya, dan latar belakang akademik dapat belajar satu sama lain, merayakan keberagaman, dan membangun persahabatan internasional yang bermakna,” jelasnya.
Langkah ini mempertegas komitmen UMS dalam mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi, membekali mahasiswanya dengan perspektif global dan keahlian kolaboratif lintas batas.
Bridging Worlds: Harmoni dalam Keberagaman
Dalam ekosistem global yang sering kali terpolarisasi, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., memberikan pandangan yang tajam mengenai pentingnya meruntuhkan sekat perbedaan.
“Keberagaman bukanlah penghalang, melainkan jembatan. Setiap peserta yang hadir di ruangan ini merupakan bagian penting dari jembatan tersebut,” tuturnya.
Mengusung tema “Bridging Worlds, A Cultural Puzzle”, ICAC 2026 memvisualisasikan setiap kebudayaan sebagai kepingan puzzle. Masing-masing memiliki estetika dan keunikannya sendiri, namun ketika disatukan, kepingan tersebut menciptakan sebuah harmoni peradaban yang jauh lebih masif.
Mencicipi Dunia di Satu Tempat
Pendekatan diplomasi budaya di ICAC 2026 tidak hanya berhenti pada diskusi akademik. Para delegasi juga beradu wacana kultural melalui fashion show, pertunjukan seni (cultural performance), hingga pameran kuliner khas dari negaranya masing-masing.
Bagi mahasiswa lokal, ini adalah privilese tersendiri untuk mengeksplorasi dunia tanpa perlu paspor. Intan Rahayu Utami, salah satu mahasiswa UMS, mengungkapkan antusiasmenya. “Acara ICAC ini memberi kesempatan buat kita mencoba kuliner dari berbagai negara. Dengan lebih dari 30 negara yang hadir, kita bebas memilih makanan yang menarik menggunakan voucher,” ungkapnya.

Interaksi kultural ini terlihat jelas di salah satu booth peserta. Abdella Amin Aliyemohammed, delegasi asal Ethiopia, tidak hanya berpartisipasi dalam fashion show, tetapi juga menghidangkan Doro Wat sajian utama berupa ayam bumbu kari dengan bawang bombai ekstra yang kaya akan cita rasa pedas. Ia juga menyajikan Dinich Alicha Wat (olahan kubis, kentang, dan wortel) serta hidangan penutup manis, Key Sir.
“ICAC tahun ini menyenangkan. Saya melihat banyak wajah baru dan sangat menikmatinya,” pungkas Abdella.

Pada akhirnya, merayakan keberagaman dan mencicipi hidangan lintas benua di pelataran kampus bukan sekadar urusan lidah, melainkan langkah krusial dalam merakit puzzle pemahaman global.